Suatu pagi, saya menunggu taksi di pinggir jalan MT. Haryono, Jakarta. Dan tentu saja saya berada di trotoarnya yang kira-kira lebarnya 1 meter. Cukup kecil untuk sebuah trotoar.
Pagi itu sangat padat, kendaraan yang ada didepan saya bergerak merambat. Dan tak satupun taksi kelihatan kosong. Sambil memandang ke arah datangnya kendaraan, mencari-cari taksi dengan lampu yang menyala (walau tidak terlalu kelihatan nyala lampunya ketika sinar matahari begitu terang), dari kejauhan saya melihat sesuatu yang MENGGANGGU sekali.
Sebuah motor naik ke trotoar, diikuti motor-motor lain dibelakangnya dan makin lama makin mendekati saya. Dipicu oleh kekesalan, terlintas sebuah skenario, and ACTION!!!
Langsung dengan pura-pura bodoh, saya memalingkan muka dan memandang ke sisi lain, seolah-olah tidak melihat motor-motor itu mendekati saya.
Seperti yang sudah diduga, motor yang berada paling depan mengklakson saya dengan kurang ajarnya “TIIIINNNNN!!!”. Yang diterjemahkan oleh otak saya “MINGGIR LU, gw mo lewat!!!”.
Saya tunggu sampai motor tersebut berhenti yang kemudian diikuti oleh motor-motor dibelakangnya, lalu menoleh pelan, tidak kaget dan tidak beranjak dari tempat sediakala. Hanya menoleh dan seperti yang sudah dipersiapkan sebelumnya saya berkata “Ini trotoar pak, jalan raya nya disitu”, sambil menunjuk jalanan beraspal yang ada di depan saya. Saya memasang ekspresi tidak takut, cuek, dan mata menyampaikan pesan “tidak akan minggir” (walau sumpah, sebenernya takut juga).
Muka si pengendara tampak kesal, terlihat dari matanya, tapi ia tidak mengucapkan apa-apa. Yah mungkin sebenarnya dia sadar kalau dia salah (atau karena tidak mau ribut dengan ibu hamil). Jadi tanpa berdebat panjang, si pengendara motor turun dari trotoar dan diikuti oleh motor-motor dibelakangnya. Walau beberapa motor dibelakangnya ada yang kurang ajar sekali mengklakson saya dengan keras ketika turun dari trotoar.
Fiuh, berhasil juga skenario dadakan tadi. Sedikit dramatis dan melegakan karena bisa bertindak ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai aturan.
*Tulisan ini dimuat di KOKI *